Senin, 23 Januari 2012

Perjalanan di Jogjakarta

19 hingga 22 Januari 2012 kemarin, saya dan teman-teman lainnya berkesempatan untuk menjelajahi Jogjakarta. Sekedar untuk menyegarkan kembali suasana dari rutinitas yang ada. Lucunya, teman-teman yang lain juga pergi ke Jogjakarta, jadi di tempat itu, secara sengaja maupun tidak sengaja bertemu teman-teman rombongan lain. Ada yang menginap di daerah UGM, ada yang menginap di daerah Malioboro, dan saya sendiri menginap di sebuah homestay di daerah Gowongan Tengah. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi sekitar 12 jam.

Hari pertama di Jogjakarta, kami menuju Malioboro untuk makan malam di angkringan. Menggunakan TransJogja dari shelter Pingit menuju Malioboro 1, dan akhirnya memutuskan makan di angkringan di daerah Sosrowijayan yang sering disebut kampung turis itu, dan ini salah satu tempat kenanganku zaman dahulu, hehehe. Ada perubahan yang mengental di daerah ini, semakin ramai dan padat, dan semakin mirip “kota” setelah dua tahun berjalan. Terus menuju daerah Benteng Vrederburg, sekitar alun-alun kota, bertemu dengan saudaranya Muna, Mas Ogi yang berkuliah di UPN. Tertawa-tawa seperti ABG Bandung di Dago, dan kami merasakan itu semua di kota ini, menjadi “gaul”, hihihi. Waktu sudah menunjukan setengah sepuluh malam dan Mas Ogi memanggilkan taksi besar 373737 untuk kami, karena hari sudah terlalu malam dan bis TransJogja sudah berhenti beroperasi.

Jum’at pagi jam 7, kami sudah pada cantik-cantik, siap jalan-jalan menuju Pasar Beringharjo untuk sarapan, kemudian menuju perpustakaan UGM, dan Candi Prambanan. Rutenya lumayan jauh, tapi senang juga jadi bisa belajar naik bis TransJogja. Sarapan paginya pecel, ternyata sudah jauh-jauh kemari, kami bertemu dengan orangtuanya Ipeh, padahal sebelumnya kami enggan bersama-sama, karena ingin berpetualang sendiri, hihihi. Sesudah itu, menuju shelter Malioboro 3, mau ke perpustakaan UGM, dan harus transit di Ngabean naik bis TransJogja 3B. Masuk ke perpustakaan UGM, harus registrasi dulu, dan bayar 2000 rupiah saja. Dari situ, bisa mengakses buku-buku impor yang aduhay sebagai bahan skripsi. Saya juga melongok kegirangan karena menemukan buku psikologi sosial yang begitu banyak dengan edisi terbaru, tidak hanya Myers atau Baron and Byrne melulu, yuhu! Selain itu juga saya menemukan buku Pak Fritjof Capra, seorang fisikawan yang lebih tertantang ke arena psikologis, beliau juga melihat struktur fisika tertentu yang sesuai dengan kesadaran para mistikus. Tapi sayang, saya tidak sempat membaca buku-buku beliau, karena waktu begitu terbatas dan saya hanya sanggup membuat copy dari buku Social Psychology karya Deaux, di mana di buku tersebut dibahas dengan jelas struktur sikap dan attitude interrelation yang tidak pernah dibahas di buku-buku psikologi sosial lainnya. Asyik, skripsi pasti sukses! Amin.

Makan siang kami di kantin UGM, alasannya: supaya kami terbiasa kalau jadi mahasiswi pascasarjana di kampus ini, hehehe. Saya memilih makan soto ayam yang lumayan enak dan kemudian, kami menuju KopMa UGM, beli keperluan yang dibutuhkan dan ada pula yang beli stiker Psikologi UGM (saya salah satunya), lagi-lagi alasannya supaya terbiasa menjadi mahasiswi pascasarjana di kampus itu suatu hari nanti dan yang lebih iseng, kami bertanya-tanya ke satpam gedung pascasarjana UGM, supaya langkah-langkah kami di tempat itu menjadi do’a adanya rezeki bagi kami untuk berkuliah di kampus UGM.
Setelah berdo’a di UGM, kami menuju Prambanan, harus dua kali naik bis TransJogja. Di Maguwoharjo, kami tertinggal bis 1A dua kali berturut-turut karena tidak kebagian, dan akhirnya untuk ketiga kalinya kami kebagian juga. Yang lucunya, di bis tersebut kami bertemu tanpa sengaja dengan Rere, Dodo, dan Defri yang juga memiliki rencana menuju Prambanan. Maka, hebohlah bis tersebut dengan pertemuan kami. Akhirnya sampai juga di Prambanan, dan untuk kedua kalinya, saya selalu menyukai Prambanan. Selalu dan selalu. Di Prambanan juga saya menuliskan coretan-coretan sederhana untuk anak pertamaku yang semoga sebentar lagi lahir. Amin.

Tidak lupa juga kami belanja di Prambanan, murah-murah dan lebih murah daripada Malioboro ataupun Beringharjo. Saya membeli Mas Hanoman dan kalung antik yang seragam dengan Itul. Harapannya membeli Mas Hanoman, supaya saya bisa diajak terbang setibanya di Bandung, tidak hanya Trijata saja yang diajak terbang, hehehe.

Malamnya, kami berjanjian dengan salah satu teman dari teman-teman saya, yaitu Mas Pungguh, kami bertemu di House of Raminten yang selalu wangi dupa, untunglah kami tiba pada saat waktunya, jadi tidak terkena waiting list yang begitu lama. Saya memesan bakso uleg yang enak, ada lontong dan tahunya. Lebih segar bakso uleg daripada mie bakso yang dipesan oleh Itul. Dari Raminten, kami menuju homestay, karena hari sudah terlalu malam, Mas Pungguh sudah menyediakan taksi besar 373737 dan mengawal kami menuju homestay dengan motor besarnya yang sangat berat. Di homestay, motor tersebut kami jadikan properti berfoto-foto. Hihi. Terimakasih Mas Pungguh, sudah mengajak kami makan-makan di Raminten, lain kali kalau ke Bandung, kami sambut dengan cakar-cakar liarnya Itul yah, hehehe.

21 Januari 2012, kami terbangun kesiangan, jam setengah 9 baru pergi menuju Beringharjo untuk sarapan. Hari ini adalah shopping day, jadi banyak yang mau beli oleh-oleh buat keluarga di Bandung. Saya hanya membeli untuk mama, sebuah daster dan juga untuk Lala, gelang sebagai hadiah ulang tahun. Teman-teman pada sarapan pecel, saya tidak sarapan lagi, karena masih merasa kenyang dengan pop mie, kue pie, dan teh manis yang dimakan saat di homestay. Kemudian, kami pergi menuju benteng Vrederburg, mengintip sedikit sejarah yang tidak mudah diintip, lalu ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY), dan ke toko buku di sebelah TBY. Sayang sekali, tidak ada buku yang saya ingin temukan di tempat itu, jadi saya putuskan membeli gorengan saja di tempat ini. Lanjut ke Keraton, lagi ada pasar tumpah karena ada perayaan Sekatenan. Di Keraton, makan bakmie yang bersih dan enak, rasanya seperti BMK yang ada di Bandung, tapi dengan harga yang terlampau murah, hehehe. Oh ya, di Keraton bertemu dengan Nida dan Uni, rombongan teman yang menginap di sekitar UGM.

Dari Keraton, jalan-jalan lagi, ada yang makan, ada yang belanja lagi. Kemudian, kami berjanjian di Mirota, ada yang makan untuk kedua kalinya, colek Tyas yang hari ini makannya sangat banyak, kelaparan sepertinya, lagi mamayu. Dan di tempat inilah kami melihat cabaret show kakak-kakak transseksual yang aduhay, saya memesan STMJ dan menatap lekat-lekat bule gondrong yang ganteng di depan saya. Hey, bule, i think my STMJ is more delicious than your beer and i am more beautiful than your girlfriend, hehehe.

Jam 9 menunggu Om Derli menjemput di Taman Pintar. Hari ini sudah lelah, bulan pun sudah datang di malam minggu ini. Rasanya badan saya rileks sedikit karena kemarinnya sudah menghirup udara segar di Prambanan.

Esok harinya, tanggal 22 Januari, kami bangun lebih pagi, karena akan menuju Bandung. Sebelum ke Bandung, kami singgah di Mirota, saya membeli sempritan untuk keponakan.
Akhirnya kembali ke Bandung juga di malam hari. Selamat tidur dan bangun menuju realitas yang ada di kota ini. Selamat malam!

0 komentar:

Poskan Komentar