Ada sedikit geli dalam benak saya ketika membaca sebuah acara yang secara rutin mengundang banyak orang untuk terlibat di dalamnya. Ah, saya anggap acara itu cukup keren. Tapi, pada akhirnya ada yang membuat saya tergelitik ketika terdapat kalimat yang menyatakan acara tersebut, kira-kira seperti ini: “ada banyak masyarakat yang tertinggal karena terbatas ruang pengetahuannya dan sebagian masyarakat lain ada yang meninggalkan jauh ke tangga posmodernisme”. Selain itu, pemaparan acara ini juga berkaitan erat dengan pengaruh teknologi informasi, sehingga meninggalkan sebuah budaya tanpa nilai.
Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa prinsip pertama posmodernisme adalah tidak menolak pramodernisme dan modernisme. Bisa dibayangkan? Bahwa posmodernisme itu sendiri sebetulnya tidak menolak apapun; paham ini hanyamenolak ketika ada satu paham yang lebih mendominasi dan meniadakan yang lain.
Pada paragraf awal ditekankan mengenai fungsi teknologi informasi. Ini barang kali salah satu bentuk dari posmodernisme. Akan tetapi, jika merujuk pada prinsip pertama posmodernisme, maka orang-orang yang dianggap tertinggal tersebut, sebenarnya merupakan orang-orang yang berada di tangga posmodernisme juga, karena mereka sudah punya nilai dengan apa yang diyakininya. Karena paham ini membuka banyak pintu kebenaran, sehingga tidak ada kebenaran yang bersifat tunggal.
Jadi, barang kali maksud dari pernyataan acara tersebut adalah imagologi, suatu bentuk imajinasi-logika. Ini juga bentuk dari posmodernisme, tapi bukan seutuhnya posmodernisme. Karena posmodernisme tidak mau adanya satu paham yang mendominasi, meski paham ini juga sebetulnya ingin mendominasi. Disinilah kita pahami kekurangan dari posmodernisme, bahwa semua dibentuk terpecah-pecah dan terpatahkan. Orang-orang sudah tidak paham mana nilai yang paling benar. Selama nilai tersebut sesuai dengan keindividuannya, maka posmodernisme memperbolehkan nilai-nilai tersebut berkembang. Posmodernisme hanya mampu mengatakan ‘benar’ untuk semua ‘kebenaran’.
Intinya, saya tetap secara personal menganggap acara itu cukup keren. Hanya saja, perlu diperhatikan penggunaan bahasa di dalamnya. Dalam posmodernisme, justru tak ada masyarakat yang tertinggal dan masyarakat yang maju. Justru mereka berkembang dengan caranya masing-masing.
Hanya saja, bagi saya posmodernisme adalah suatu paham yang mentah. Mau memberi solusi, tapi yang muncul hanyalah benang kusut. Semuanya terpatah-patahkan dan lepas dari nilai kebenaran yang sesungguhnya. Bisa dikatakan, posmodernisme terlalu naif. Meskipun ada hal yang baik bisa didapatkan dari paham ini, meski tak seluruhnya.
Orang kini harus belajar mencari titik temu, bukan justru menganggap semuanya adalah kebenaran. Bagaimana pun logika tetaplah milik pribadi-pribadi, justru jangan dimatikan begitu saja. Bagaimanapun nafsu juga bagian dari diri kita, karena ia adalah energi kehidupan. Pun intuisi, itu bukanlah hal yang harus dilenyapkan, karena dengan media itu kita mampu memahami keutuhan. Karena, mencoba mencari titik temu akan mampu memahami kedalaman makna.
0 komentar:
Poskan Komentar