Sabtu, 31 Desember 2011

Waktu Kesadaran


Waktu matematis 2011 sebentar lagi berakhir. Tidak demikian dengan waktu kesadaran yang sekarang pun tidak diketahui berapa usianya, berapa lamanya, berada detik, menit, dan jam-nya. Waktu kesadaran menjelma menjadi sebuah misteri yang hanya disadari seperti sebuah perkembangan yang tak direntangkan jarak waktu matematisnya. Saya hanya berpikir kesediaan seseorang sepertinya tidak dinyatakan secara murni dengan waktu matematis, kesediaan untuk melakukan sesuatu murni dinyatakan dalam waktu kesadaran yang tak terlihat “wujud”-nya. Begitu pun dengan 2012 yang saya pikir merupakan kumpulan waktu matematis. Namun, wujud kita menghargai waktu memang hanya mampu diikuti dengan waktu kesadaran. Menyadari bahwa ini waktu yang tepat untuk sebuah perenungan, menyadari bahwa saat ini adalah waktu yang paling baik untuk menyatakan keberanian, dan sebagainya. 2011 mengajarkan banyak hal tentang waktu kesadaran yang memang sering berkorelasi dengan waktu matematis. Hanya saja waktu matematis bukanlah waktu yang mutlak untuk sebuah diri berubah, untuk sebuah fenomena berubah, untuk menjadi peristiwa, atau menjadi yang terlupakan.

Bisa tidak merasakan waktu kesadaran itu? Waktu yang terus berputar, mengalir, dan menjelma lewat waktu matematis. Waktu kesadaran adalah suatu pembentukan waktu-waktu yang bersinergis dengan alam semesta, tertuju pada sesuatu yang berupa misteri. Yang membuat saya tersadar adalah bahwa waktu matematis bukanlah obat dari berbagai macam penyakit; waktu kesadaranlah yang melakukannya, yang ikut “membimbing” sebuah perubahan. Waktu kesadaran itu sebuah kelapangan dan tangkapan intuitif yang menjelma menjadi sebuah energi.

Dalam waktu kesadaran ini, orang memandang ke atas. Langit-langit yang tekadang biru, merah, dan abu. Air yang terkadang biru, coklat, bahkan hijau. Tanah yang terkadang hitam, coklat, atau merah. Angin yang terkadang keras, lembut, dan semilir. Waktu kesadaran itu berbisik melalui banyak hal, mengungguli kesemua waktu matematis manapun.

Ingin rasanya memeluk waktu kesadaran itu, agar saya selalu berbahagia dengan berbagai emosi yang dimiliki. Rasanya kebahagiaan itu sebetulnya selalu tersenyum dengan caranya sendiri, menari bersama waktu kesadaran. Inti kebahagiaan adalah energi. Orang-orang-menurut saya-akan membimbing dirinya sendiri menuju realitas kebaikan itu di masa yang akan datang. Semakin mereka merengek akan realitas kebaikan; maka mereka akan semakin kuat dan banyak energi yang terus dihasilkan.

Setiap waktunya, saya selalu memohon kepada-Nya agar semua makhluk selalu berbahagia, agar selalu ada energi untuk menebar kasih.

0 komentar:

Poskan Komentar