Jumat, 30 Desember 2011

Tiga Film Untuk Mimpi Plus Keberanian




Beruntung sekali hari ini menetapkan untuk tidak membuka halaman-halaman mayantara. Karena saya memutuskan untuk menonton film-film yang sudah saya minta dari teman-teman saya. Ada Toast, Dead Poets Society, dan Minggu Pagi di Victoria Park. Berbahagia pula ketika semua film yang saya tonton tersebut tak ada satu pun yang mengecewakan saya.


Toast mengisahkan seorang Nigel Splater, seorang koki ternama yang memiliki kisah masa kecil di kelaluan yang berat. Namun, keberatan itu tak membuat dia menjadi payah. Ia tumbuh menjadi seorang koki dari rasa yang berat itu. Menghidupi aliran hidupnya dengan pilihan yang diputuskan dirinya sendiri. Selain itu, saya suka warna film ini, penuh warna kombinasi yang saya sukai. Satu hal yang saya bisa maknai dari film ini adalah keinginan untuk “bertahan” dan “menyerang” akan impian yang ingin dicapai. Percaya akan hasrat dan kemampuan diri sendiri.


Selanjutnya, saya memutuskan untuk menonton Dead Poets Society. Pilihan saya sederhana, karena saya menyukai puisi, sehingga memutuskan untuk menonton film itu. Banyak tokoh yang saya hapal benar keahlian beraktingnya, seperti Robin Williams dan Ethan Hawke. Memang, peran guru yang “tak biasa” selalu melekat erat pada Robin Williams yang saat itu melakoni Keating. Sebagai guru sastra, ia membuka sekat-sekat kaku dalam memahami puisi; ia juga membantu murid-muridnya membuka sumbatan aliran kreativitas menjadi karya yang luar biasa. Sekali lagi, film ini juga menekankan pada hasrat untuk bersatu pada pilihan hidup. Akan tetapi, saya juga melihat makna bahwa film ini juga menekankan pada keberanian untuk mengungkap suatu kebenaran dalam situasi yang menjebak sekali pun. Semakin pula film ini membuat saya mencintai puisi. Ah, saya juga suka sekali dengan banyak adegan yang diambil dengan kamera berputar, sehingga lingkungan hanya menjadi blur-blur berputar, dan manusia adalah fokusnya. Romantis.


Terakhir, saya menonton Minggu Pagi Di Victoria Park. Saya mengetahui film tersebut sudah lama, dan sangat terkenal di era perkuliahan Psikologi Gender. Film ini mengisahkan tentang tenaga kerja perempuan yang berada di daerah Hongkong. Menjelaskan berbagai kemelut persoalan yang terjadi dalam dunia per-TKW-an atau buruh migran perempuan. Hanya saja kita harus paham bahwa tak selamanya TKW disiksa dan lain-lain, ada juga TKW yang memang dipekerjakan secara layak di tempatnya sendiri. Namun, menariknya, saya tertarik dengan ide “organisasi” yang menaungi para TKW ini dalam upaya untuk menolong teman-teman yang kesulitan dalam kesehariannya. Suatu hal yang mungkin jarang kita temukan di kekinian, di sekeliling kita.

Kenyataan yang mengerikan, negara kita mendapatkan keuntungan dari para pekerja di luar negeri tersebut, hanya saja kita tak memahami bahwa bekerja di sana, dalam sektor informal, tentulah tidak mudah. Tentulah banyak dinamika kesulitannya. Seberapa banyak pemerintah menolong dengan gesit kesulitan-kesulitan mereka? Tidak tahu! Seberapa banyak negara kita mendapatkan keuntungan dari mereka? Tentu banyak! Tidak berlebihan mereka disebut sebagai “pahlawan devisa negara” karena mereka memang menyumbang banyak materi pada negara kita. Sedangkan apa yang mereka dapatkan? Bagaimana perlindungannya? Bagaimana kenyamanan dan keamanan mereka? Bagaimana pemerintah bisa menjamin dengan baik segala hal yang mereka butuhkan? Saya tidak tahu jawabannya. Selain itu kejutan dari film ini adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya, seperti Emha Ainun Najib, Novia Kolopaking, Sabrang Mowo, dan lain-lain. Untuk saya ini sebuah kejutan, karena saya merasa bahwa ini sebuah ranah yang menurut saya istimewa dan tergarap oleh mereka semua. Tentu peranan Lola Amaria sebagai dalang juga sangat keren dan mengagumkan. Intinya adalah begitu manis ketika tak mengomodifikasikan agama dan Tuhan untuk menggeser makna awalnya menjadi persoalan kecil nan menye-menye. Film ini justru menyampaikan simbol-simbol untuk memaknai Yang Paling Dalam.

Ketiga film ini begitu saya nikmati dengan tanpa cela. Hingga tanpa terasa setiap tetes air dari mata mengalir begitu saja. Lucu. Saya ini memang mudah terharu dengan hal-hal yang sederhana. Terkadang orang berkata saya cengeng. Tapi terserahlah, karena bagi saya itu hanyalah bentuk ekspresi yang tidak mudah untuk ditahan dan bahkan tidak bisa saya tahan. Justru saya bersyukur masih diberi-Nya air mata.

Lebih baik saya menutup sekilas obrolan sederhana mengenai film ini dengan sebuah sajak yang dinyanyikan dalam Minggu Pagi di Victoria Park.

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaimu harus menjelma aku

(Sapardi Djoko Darmono-Sajak Kecil Tentang Cinta)

0 komentar:

Poskan Komentar