Sabtu, 24 Desember 2011

Pupuk



Pesannya yang terakhir masih terngiang-ngiang di telinga saya, seperti dengung serangga yang begitu dekat dengan telinga, “semoga kita bisa saling memupuki. Semoga pupuk ini berhasil menanami satu sama lain.” Ah ya, waktu itu saya rasa makna pupuk bisa saja terjalin dengan kebersamaan. Kebersamaan antar satu sama lain. Kenapa tidak bisa bersama dan saling memupuki? Kenapa?

Hingga akhirnya, kemarin saya mendapatkan sebuah buku dari seorang teman saya, judulnya Wahai, karya Korrie Layun Rampan. Saya baca riwayat hidup penulis, dan saya dapatkan nama Umbu Landu Paranggi di dalamnya. Yang ternyata, beliau adalah pengasuh orang-orang ternama yang kukenal, sebut saja Korrie Layun Rampan, Emha Ainun Najib, dan Linus Suryadi AG. Siapa yang tidak kenal karya-karya mereka semua? Di balik tangan dingin Umbu Landu Paranggi mereka menjelma.

Dalam artikel yang saya baca, beliau dapat dikatakan sebagai seorang pohon rindang yang meneduhkan dan menaungi banyak orang. Sosok yang membawa kantong plastik berisi kertas-kertas puisinya, berjalan kesana-kemari, menggelandang. Dan beliau ‘melahirkan’ banyak orang ternama yang tadi saya sebutkan. Apakah ini tidak bermakna sesuatu ketika beliau hanya mau disebut sebagai pupuk saja? Pupuk mengartikan, suatu zat yang membesarkan tanaman yang dipupukinya, tapi zat tersebut tidak ikut besar seperti tanamannya.

Saya jadi tersenyum penuh haru ketika membaca filosofi pupuk tersebut. Betapa Dia menyuruh saya untuk paham secara perlahan, menemukan setiap makna secara mandiri dalam waktu yang tepat. Dan dia hanya minta menjadi seonggok pupuk yang menanami saya. Ah, saya percaya, dia suatu saat akan besar seperti tanaman juga. Biarlah alam semesta yang jadi potret perjalanan kesunyian itu.

NB: Terimakasih untuk Dije. Tidak kebetulan kita bertemu di kantin Lotus dan kamu memberikan ini buat saya. Hingga akhirnya saya bisa meerontokkan makna pupuk. Terimakasih sekali lagi. Semoga kebahagiaan senantiasa melimpah pada Dije. ^^

0 komentar:

Poskan Komentar