Rabu, 11 November 2009

Tidak Tabu Untuk Tahu

Tabu, merupakan satu kata yang menghambat manusia untuk tahu, dan sering kali terjadi pada pihak kaum perempuan.

Dimulai dari perbincangan saya dan beberapa teman yang lainnya, diskusi tertutup itu hanya menghadirkan dua perempuan dan dua laki-laki saja, dan topik yang dibahas adalah, tentang seks.

Kami berempat saling berbagi cerita dan pengetahuan mengenai seks. Mungkin, selama saya masih di SMA, diskusi macam ini sungguh menggelikan dan menjijikan. Namun, ketika saya sudah beranjak kuliah, diskusi macam ini menjadi sesuatu hal yang wajarr, dan perkuliahan saya benar-benar harus menganggap wajar permasalahan ini. Seks merupakan bagian dari diri seseorang, berupa dorongan ataupun perilaku yang ditampilkan.

Saya tertarik dengan pembahasan yang dilakukan oleh Ruang Psikologi mengenai masturbasi. Jujur, selama ini, saya rasa orang-orang di sekitar saya masih ragu-ragu untuk membahasnya.

Kembali ke diskusi antara saya dan teman-teman mengenai seks yang akhirnya berlabuh pada masturbasi. Dua teman laki-laki saya mengaku sering melakukan masturbasi, sedangkan, saya dan teman perempuan saya tidak terbuka mengenai persoalan ini karena kami perempuan. Perempuan?

Entah apa yang dirasakan perempuan saat membahas soal mastuibasi ini, mungkin kami selalu merasa hal ini begitu berdosa, tabu untuk dilakukan, dan sebaiknya tidak dilakukan. Namun, sebaliknya dengan laki-laki, hal ini sangat wajar untuk dilakukan dan malah mengakui kenikmatan yang dirasakan saat melakukannya.

Saya hanya berpikir, perempuan dan laki-laki dihadiahkan berupa dorongan seks dari Yang Di Atas, tapi, mengapa perempuan cenderung merepresi persoalan ini untuk tidak dilakukan. Padahal sebenarnya wajar-wajar saja jika perempuan memang mau melakukannya. Dari apa yang diceritakan oleh teman-teman perempuan saya, hal itu merupakan suatu kejijikan bagi masing-masing individu. Saya pun masih ragu dalam menyikapinya, karena saya sebagai individu merasakan kebingungan dan minimnya informasi yang didapat.

Dari sudut pandang apakah saya harus melihat persoalan ini? Agama, kebudayaan, atau kemanusiaan? Saya pun semakin ragu. Teori-teori dalam perkuliahan saya pun menyatakan bahwa seks merupakan kebutuhan dasar yang hampir sama dengan makan, minum, tidur, dan sebagainya. Namun, kita juga mesti melihat budaya mana yang digunakan.

Menurut saya, masturbasi masih sesuatu hal yang sangat wajar, daripada melakukan sexual intercourse, tentu lebih berbahaya dan beresiko, dan malah bisa menimbulkan perilaku free sex pada masyarakat.

Dan dari beberapa kasus yang pernah saya baca, banyak perempuan yang tidak mengetahui bahwa mereka bisa mencapai klimaks saat berhungan seks dengan suaminya sepanjang hidupnya. Hal ini justru menampilkan keironisan dari perilaku seks perempuan. Kembali lagi dengan pendapat saya, perempuan semestinya tidak perlu takut untuk berdiskusi soal ini, apalagi jika perilaku seks yang dilakukan bersifat halal. Tentu hal ini akan menjadi salah satu aspek pembentukan keharmonisan di dalam rumah tangga.

Perempuan yang banyak belajar dan berdiskusi tentu akan semakin pintar pula dalam permasalahan ini. Memang, dorongan dan perilaku seks merupakan privasi dan hak bagi setiap orang, tapi, jangan sampai hal ini menjadikan ketabuan bagi masyarakat. Pentingnya informasi untuk mendapatkan berita yang benar, baik dalam perilaku seks yang sah maupun pencegahan penyakit seks menular, ditambah dengan pentingnya menjaga organ reproduksi kita.

Kamu punya hak untuk tahu!

Minggu, 01 November 2009

musik menendang alam bawah sadar

Tanggal 31 Oktober 2009, saya diajak pasangan untuk menghadiri acara di Pojok Ngopi, Bandung. Sebelumnya, saya mau bertemu dengan teman dari Surabaya yang akan menjadi kejutan manis di acara tersebut. Hari sudah mendung, kami diburu oleh berita bahwa acara akan segera dimulai. Untunglah, kami sampai tepat pada waktunya, acara belum dimulai, yiheeeee….

Pasangan saya berperan sebagai additional player di Multinarasi Analog yang pada hari itu mengubah namanya. Hemm, yang unik, mereka hanya membentuk suatu konsep saat bermain, bukan latihan! Penasaran kan? Bagaimana suatu band hanya bermain dan memadukan musik bersama pada saat itu juga.

Penampilan pertama dan kedua membuat saya cukup mengantuk, sampai seorang perempuan bermain gitar di salah satu band. Jujur, saya kagum, hanya sekarang saya sedang berhenti bermain gitar, belum ada perasaan emosional lagi yang membuat saya untuk bermain gitar.

Sampai akhirnya, tibalah multinarasi analog bermain,Wow! Perkakas yang dibawa begitu banyak, ada seng, televisi, alat bor, tabung gas, dan sebagainya. Pasangan saya bermain suatu alat musik yang seperti gitar, tapi, saya tidak tahu pasti namanya apa, hehe.

Setelah persiapan yang cukup lama, akhirnya mereka memulai aksinya. Permainan awal yang membingungkan, saya kira tidak terbentuk harmonisasi dalam permainan tersebut, tapi pernyataan saya salah! Mereka membentuk suatu konsep yang ciamik dalam permainan tersebut. Permainan yang lurus dimainkan oleh Aji dan menjadi patokan untung pasangan saya, Bebe. Suara-suara lainnya mencoba merusak, mengintervensi musik yang lurus-lurus itu. Ah saya merinding dibuatnya!

Mungkin, buat sebagian orang akan merasa risih dengan penampilan tersebut, tapi buat saya, ini baru namanya penampilan, layak diacungkan 10000 jempol! Benar-benar performance art deh!

Dan yang tidak kalah penting, saya melihat untuk pertama kalinya pasangan saya main. Hemm, ternyata suasana menjadi berbeda, saya akhirnya melihat sisi lain dari dirinya yang beraneka ragam. Walaupun sangat disayangkan bahwa dia tidak mau bermain musik lagi, mungkin, ini akan menjadi penampilan pertama dan terakhir yang saya lihat.
Sesekali musik mereka menendang-nendang alam bawah sadar saya, sesekali musik mereka membuat saya tersenyum sendiri, dan sesekali mengingatkan saya terhadap memori-memori lama.

Kemudian, pentas dilanjutkan dengan Aneka Digital Safari dan Sungsang Lebam Telak. Untuk abnd yang kedua ini, saya sudah menilai bahwa aliran yang dimainkan akan sangat mengerikan dengan teriakan-teriakan yang tidak mudah mengerti, tapi, lagi-lagi saya salah! Justru yang dimainkan oleh mereka adalah jazz, jazz yang sangat nakal.

Uhhh, setelah band-band ini, saya malah mengantuk lebih lanjut. Ah bosan! Mari kita pulang, setidaknya saya sudah puas melihat pasangan saya main.
Hemm, mungkin, saya agak sedikit kecewa dengan pernyataan pasangan yang tidak ingin main musik lagi, padahal saya tahu, dia sangat berperasaan saat bermusik. Tapi, sudahlah, itu pilihan dia.

Saya jadi ingat kata-kata dalam film Before Sunrise, mungkin, saya tidak bisa menuliskan secara tepat, tapi beginilah intinya:
“Saya akan sangat menyukai kejelekan, kebiasaan yang buruk dari pasangan saya, mungkin bagi orang lain adalah masalah, tapi sebaliknya bagi saya. Saya akan sangat-sangat menyukainya, karena saya semakin mengenal dia.”

Selasa, 06 Oktober 2009

Kitab Omong Kosong Tanpa Omong Kosong


Baiklah, saya mendapatkan buku ini sebagai THR dari pasangan saya. Sebelumnya, saya memang sangat mengagumi karya-karya Seno Gumira Ajidarma. Belum banyak yang saya baca memang, tapi dari setiap karyanya terdapat hal-hal yang menyentuh hati dan pemikiran saya. Salah satunya, Kitab Omong Kosong ini.

Hem, darimana ya saya harus memulai untuk bercerita? Sungguh memusingkan untuk membahas buku yang satu ini. Tapi, mari kita coba bahas dari ringkasan cerita di belakang bukunya. Dari ringkasannya saja sudah terdapat hal-hal yang sungguh menggoda dan sangat menggelitik. Yaitu, bagian dimana Togog tidak mau ceritanya dibaca. Apakah alasan Togog mensugesti kita untuk tidak membacanya? Saya pun tidak tahu, anda yang harus membacanya. Yang jelas, kalimat-kalimatnya malah membuat saya ingin membaca buku ini sampai habis.

Ya, buku ini sangat kental dengan dunia pewayangan. Namun, uniknya ada beberapa bagian cerita yang justru dikaitkan dengan gaya hidup pada zaman sekarang. Sehingga, saya pun mengalami distorsi waktu, namun, hal ini tidak mengganggu, justru malah membuat saya tergelitik dan semakin tertarik dengan daya magis dari Kitab Omong Kosong.

Ok, cerita ini menceritakan sebuah perjalanan kedua manusia, Satya dan Maneka. Keduanya memiliki masa lalu yang menyedihkan, nasibnya tertoreh oleh sang pencerita, Walmiki, yang tentunya sudah kita ketahui sebagai seorang pengarang cerita Ramayana. Kecerdasan, keberanian, dan cinta di antara keduanya membuat mereka terus berpetualang dan saling membantu dalam setiap perjalanan yang sangat berat tersebut. Kata-kata, pemikiran, dan gambaran alam dalam buku ini sangat membuat saya tersentuh secara personal.

Bagi saya yang sangat buta tentang dunia pewayangan, buku ini sangat membantu saya mendapatkan wawasan baru yang ironisnya hampir punah diterkam dunia teknologi yang serba canggih. Pada bagian awal, buku ini menceritakan mengenai kisah Ramayana melalui persembahan kuda, pembuktian kesucian dan kesetiaan yang dilakukan oleh Sinta pada Rama, cerita-cerita mengenai Hanoman, perseteruan antara Ayodya dan Alengka, dan sebagainya.

Yang jelas, buku ini sangat wajib untuk dibaca bagi manusia-manusia yang buta akan dunia pewayangan seperti saya. Setidaknya, saya jadi semakin ingin tahu tentang dunia pewayangan yang sungguh membuat saya takjub dengan segala keanehan dan keajaibannya.

Sebagai tambahan, gambar ilustrasi yang dibuat oleh Danarto dalam buku ini sangat luar biasa! Saya berdecak kagum oleh penggambarannya mengenai Satya, Maneka, Rama, Sinta, Walmiki, dan Hanoman. Bagi saya, buku ini memiliki kriteria yang hampir sempurna. Sungguh layak buku ini diapresiasikan dan juga mendapatkan Khatulistiwa Literacy Awards 2005.

Saya pun jadi ingin berbicara sedikit:
“Katanya, wayang milik Indonesia, tapi ko warga negaranya tidak mau mengetahui cerita-cerita pewayangan ya? Nanti disamber negara tetangga baru pada ribut. Weleh-weleh. “

Rabu, 23 September 2009

Puthut EA Menghajar Saya


Sepertinya sudah kali ketiga saya membaca cerita pendek ini. cerita yang dibuat oleh Puthut EA, berjudul Sarapan Pagi Penuh Dusta. Dari sekian cerita pendek yang ada dalam buku itu, hanya cerita inilah yang begitu merusak pikiran saya.

Sebenarnya, untuk memiliki pemikiran seperti tokoh dalam cerita tersebut sudah menjadi suatu fenomena yang benar-benar berbeda dalam kehidupan sosial di Indonesia. Seorang perempuan yang memiliki karir cemerlang dan begitu sayang kepada ibunya. Sampai-sampai, ia berbohong kepada ibunya hanya karena ingin membahagiakan beliau.

Cerita tersebut selalu menyisipkan percakapan antara ibu dan anak. Ibu yang kesepian di rumah begitu bahagia menunggu kehadiran anaknya. Saya jadi teringat nenek yang tinggal di rumahnya seorang diri. Memang, disekitarnya terdapat rumah para saudara, namun, pada kenyataannya beliau tinggal dirumahnya yang cukup besar seorang diri.

Kembali lagi pada cerita tersebut, percakapan tersebut pasti selalu mengandung inti dari suatu pertanyaan seorang ibu, seperti, bagaimana kondisi pekerjaan? Kapan kamu menikah? Dan maukah kamu tinggal dekat dengan ibu?

Ironis memang, sang anak tidak menginginkan hal yang kedua dan yang ketiga terjadi. Sang anak tidak tertarik untuk menikah, padahal dia adalah seorang perempuan yang biasanya menginginkan keturunan dari rahimnya sendiri. Hal yang ketiga tidak ia inginkan karena ia memiliki pekerjaan yang cukup baik di kota, jadi tidak mungkin ia meninggalkan karirnya begitu saja.

Jujur, saya merasa sungguh terposisikan dalam peranan si tokoh. Hanya, terdapat juga sedikit perbedaan antara saya dan si tokoh. Saya masih kuliah, dia sudah bekerja. Saya masih muda, dan dia sepertinya sudah cukup matang untuk membicarakan soal pernikahan.

Kemudian, persamaannya adalah saya memiliki pemikiran yang selintas untuk tidak menikah. Mungkin, karena persyaratan calon yang sangat ketat dari kedua orang tua saya. Mungkin juga, terlalu dini bagi saya untuk membicarakan soal pernikahan, dan terlalu dini pula bagi saya untuk mengatakan saya tidak akan menikah. Semuanya masih terus berjalan sesuai waktu. Dengan beberapa kejadian, bisa saja saya mengubah pemikiran saya ini.

Jujur, saya menginginkan anak dari rahim saya sendiri. Namun, saya cukup pesimis bisa mendapatkan seorang lelaki yang diinginkan oleh kedua orang tua saya. Bisa jadi ada yang mengatakan bahwa sayalah yang menikah, bukan kedua orang tua saya. Namun, tetap saja, dalam adat istiadat saya, pernikahan antara dua manusia itu bagaikan menikahkan kedua keluarga.

Telinga saya sudah cukup merah jika mendengarkan wejangan-wejangan dari kedua orang tua saya. Kemudian, wejangan-wejangan mereka lama-kelamaan mengerdilkan perasaan saya sebagai perempuan, sebagai anak bungsu yang diharapkan bisa memenuhi ambisi kedua orang tuanya.

Rasanya tak tega untuk melukai hati kedua orang tua saya dan rasanya tak adil pula jika saya tidak berbakti kepada mereka berdua. Ya, dalam hal ini saya sangat pesimis bisa membahagiakan kedua orang tua saya. Para lelaki itu pun terus berguguran di usia saya yang ke 18.

Delapan belas tahun? Saya merasa kehilangan dan tercuri masa-masa remaja akhir saya.

Minggu, 13 September 2009

18 jam yang luar biasa!

Pagi itu, saya bangun pukul setengah 6 pagi. Cukup segar rupanya, setelah sahur, kemudian dilanjutkan dengan tidur singkat selama setengah jam. Sebenarnya, hari ini saya cukup deg-degan. Berhubung hari ini adalah hari dimana Frekuensi Lepas Landas akan tampil untuk pertama kalinya. Hari ini adalah hari dimana lagu-lagu ciptaan saya dikumandangkan ke telinga banyak orang. Hari ini adalah hari dimana saya tampil memainkan gitar untuk pertama kalinya di depan banyak orang.
Take it or leave it.
Saya sangat percaya sekali akan ungkapan itu. Lebih baik saya pergunakan dengan baik kesempatan untuk tampil di depan orang-orang itu, daripada saya harus meninggalkannya. Mungkin, di suatu hari nanti, kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Lagu pertama, Impression. Hemm... lagu pertama ini agak sedikit kacau, pada menit-menit pertama suara penyanyi tidak sesuai dengan suara organ. Suara gitar pun tidak terdengar. Tapi, saya sangat bahagia akhirnya lagu pertama saya bisa dikumandangkan juga.
Lagu kedua, Delusi. Sebenanrya selama latihan atau lebih tepatnya semenjak lagu ini dibuat, versinya sangat menyeramkan, dan saya agak kebingungan mengaransemennya. Tapi, untunglah, lagu ini cukup mendapat sambutan yang meriah dari penonton berkat versi swing-folks-popnya.
Lagu ketiga, kami memainkan ulang lagu Mocca yang berjudul On The Night Like These, dengan versi yang lebih teatrikal. Selesailah Frekuensi Lepas Landas pun bermain!

Sore hingga malam, saya memiliki rencana untuk berkumpul dengan teman-teman SMA. Kami pun memutuskan untuk pergi ke Punclut, tempat makan di daerah perbukitan Bandung. Ah sial! Hari ini hari Sabtu! Bandung sedang macet-macetnya, otomatis Punclut pun macet luar biasa. Sepertinya ada ratusan bahkan ribuan motor yang menyemut di kawasan ini. Buka puasa pun diselimuti dengan amarah yang meledak, jujur, saya merasa lelah saat itu. Akhirnya, kami pun mendapatkan tempat untuk makan. Dan Dalam sekejap, makanan pun habis. Tiga porsi nasi timbel pun saya habiskan dalam sekejap. Hehe.
Kemudian, acara dilanjutkan ke Gasibu. Kami ingin mencari cemilan di malam hari. Hasrat pun tertuju dengan warung tenda pinggir jalan yang bernama NJCE, setelah diselidiki, ternyata bukan NJCE, tapi NICE! Tololnya kami!
Saya pun memesan susu murni putih manis hangat. Nyaman rasanya setelah minum susu tersebut. Tiba-tiba, datang seorang banci yang ingin bernyanyi di tempat kami. Teman saya yang laki-laki sudah waspada ketika melihat banci tersebut. Akhirnya, dia pun pura-pura tertidur. Mungkin, banci tersebut tak kuasa melihat teman saya yang pura-pura tertidur, akhirnya, sambil bernyanyi, dia pun mengelus-elus punggung teman saya! Teman saya pun tertawa histeris dan kemudian kabur dari tempat itu. Hihi.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam setengah 12 malam. Saatnya untuk pulang diantar teman saya. Di sepanjang jalan, kami banyak berdiam diri. Saya sangat mengantuk pada saat itu, mungkin, dia juga. Namun, perasaan kantuk itu pun menghilang saat saya melihat seorang perempuan yang mengenakan mini dress. Perempuan itu mengangkat ujung roknya, maju ke arah mobil di belakang kami, dan tersenyum menggoda di sekitar area rel kereta api.
Hemm.. saya merasa kasihan pada perempuan itu. Mungkin, anda lebih mengetahui tentang apa yang sedang ia lakukan saat itu. Hanya karena ingin makan, hanya karena ingin kemewahan, hanya karena ingin merasakan kebahagiaan, hanya karena ingin merasakan kenikmatan, ia harus menjual tubuhnya. Mungkin, apa yang saya sebutkan tadi, baginya adalah segalanya. Tapi, bisa jadi, baginya, berlaku sedemikian rupa adalah bagian dari eksistensi diri atau mungkin aktualisasi diri.
Hati saya pun terenyuh melihat perempuan itu. Perasaan saya pun sungguh dilema. Di satu sisi, ia berbuat seperti itu demi mempertahankan kehidupannya, namun, di satu sisi lain, berlaku sedemikian rupa sangatlah tidak masuk akal bagi saya.
Tuhan, berikan kekuatan untuk saya agar di kemudian hari, saya dapat merengkuh jiwa-jiwa tersebut. Mereka bukanlah jiwa-jiwa yang nista, namun, mereka adalah jiwa-jiwa yang dinistakan oleh orang-orang lain dan situasi yang menjebak.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Launching Hasil Persetubuhan Kami

Persetubuhan itu peleburan dua manusia dalam satu peristiwa, dimulai dari Adam dan Hawa.

Persetubuhan antara Adam dan Hawa itu sangatlah suci, merupakan proses produksi pertama di bumi, dimana manusia dijadikan sebagai media dari Sang Pencipta.

Persetubuhan itu bukan hanya menjelaskan gejala fisik dan seksual saja, maknanya lebih dari itu.

Persetubuhan itu tidak selalu buruk maknanya. Coba putar pikiran anda, maknanya bukan hanya soal mesum-mesuman saja.

Kami pun bersetubuh, hingga akhirnya melahirkan anak dari hasil persetubuhan kami.

Persetubuhan yang terjadi di antara kami, bukanlah gejala-gejala dari seksualitas.

Persetubuhan yang terancang dari dua pemikiran manusia yang terus berubah hingga terjadi hubungan dialektis yang saling mengisi.

Kami terus bersetubuh, bukan untuk acara mesum, bukan untuk acara hedonis, tapi sebagai media perenungan.

Baik perempuan maupun laki-laki dapat melahirkan di tempat ini. Melahirkan benih yang tertanam sejak kecil. Bergembiralah menjadi media dari Sang Pencipta!


www.per-setubuh-an.blogspot.com

Sabtu, 22 Agustus 2009

pesan dari malam dan masa lalu

Malam itu, saya memutuskan untuk tidak minta dijemput oleh papa. Saya ingin mencoba berjalan kaki walaupun malam itu telah menunjukkan pukul setengah 12 lewat.

Bagi orang tua mungkin suatu hal yang mengerikan jika anak gadisnya berjalan kaki di malam hari. Tapi, jangan khawatir, saya hanya ingin menikmati angin malam saja.

Malam itu sangat sepi, hanya para penjaga perumahan saja yang terjaga. Sesekali terdapat bunyi siulan menggoda saya. Sialan! Apa salahnya perempuan keluar malam? Ini sudah menjadi bentuk diskriminasi. Namun, saya tidak mau membalas terkam para penggoda tersebut. Saya mesti hati-hati, anggota kelompok mereka cukup banyak, dan saya hanya seorang diri.

Paragraf tadi menjelaskan ketidaksukaan saya pada malam hari itu. Namun, ternyata ada hal-hal lain yang sangat saya suka. Bintang dan angin. Wuiihhh…. Bandung sedang indah-indahnya! Bintang-bintang bermunculan dimana-mana, ini baru di dataran rendah Bandung, tak terbayang jika saya ada di daerah perbukitan, seperti di kampus misalnya. Anginnya pun nyaman, perlahan meniup wajah saya yang kesepian.


Ah, saya jadi teringat pesan singkat dari pasangan saya kemarin.
“Coba kamu lihat bintang yang paling terang, saya lagi lihat yang itu.”
Saya pun tersenyum mengingatnya. Kemudian, saya menengadahkan wajah ke atas langit. Indahnya! Saya seperti tersedot kekejauhan langit, hingga akhirnya saya terdampar pada kejadian-kejadian tahun lalu.

Tahun lalu, saya melaksanakan ibadah puasa dengan seseorang yang lain, dan pada tahun ini, saya melaksanakannya dengan seseorang yang lain pula. Waktu telah banyak berubah ternyata.

Tahun lalu, saya merupakan mahasiswi tingkat satu yang sedih karena terdampar di tempat kuliahan sekarang. Namun, hal itu menjadi lain. Sekarang saya merasa bahagia berada di tempat kuliahan ini. Ada yang hitam, putih, tak bersuara, tak melihat, bunyi piano, bunyi biola, bunyi gamelan, para pelukis, para teknisi, para pelaku rumah tangga, para religius, para pembangkang, para pembiacara baik menggunakan bahasa asing mau pun bahasa lokal, dan para calon psikolog! Amin.

Ah, waktu ternyata benar-benar berubah. Ada yang hilang, ada juga yang datang. Namun, beberapa di antara mereka ada yang masih bertahan di samping saya. Terima kasih sudah mau ada di samping saya, teman-teman!

Saya pun hampir sampai di rumah, sedikit merasa sedih karena perjalanan di malam hari ini akan segera berakhir. Saya pun ingin sedikit berpesan: hargailah hak pejalan kaki, baik itu perempuan maupun laki-laki, baik itu siang ataupun malam. Saya juga manusia dan seorang perempuan yang ingin berjalan kaki tanpa ada gangguan dari para penggoda yang tak bertanggung jawab!